Wednesday, June 29, 2011

HIKAYAT PRANG SABI DI MATA SARJANA DAN MILITER

HIKAYAT PRANG SABI
 Militer ( baca penjajah ) melihat sesuatu yang pribumi itu adalah musuhnya. Setelah seluruh bahagian Indonesia dapat dijajah, Kerajaan Aceh diidam juga sebagai sebagian jajahan Belanda. Berbagai helah Belanda untuk bermusuh dengan Aceh. Dikatakan Aceh telah memecah perjanjian yang sudah dimetrai dengan Gubermen Hindia Belanda pada tanggal 30 Maret 1857 tentang perniagaan, perdamaian dan persahabatan. Dengan segala usul bagi mewajarkan perang direka, Nievwenhuijzen menyatakan perang terhadap Sultan Aceh. Surat arahan perang ditanda di atas kapal perang Citadel van Antwerpen pada 26 Merat 1873 ketika berlabuh di Aceh Besar.

Setelah menerima surat Niewenhuijzen, Sultan Aceh merasakan perang akan berlangsung bila-bila masa. Maka kerana yakin hanya Allah saja penentu hidup mati manusia, dan orang Aceh dilarang tunduk kepada orang kafir, Teungku Syeikh Muhammad yang lebih terkenal lakap Teungku Chik Pante Kulu menulis Hikayat Prang Sabi, maka diaplikasi dari beberapa ayat al-Quran bagi orang-orang yang beriman.

Apakah sebab kamu tidak mau berperang ke atas jalan Allah, untuk membebaskan rakyat tertindas, yang terdiri dari pria, wanita dan belita. Dengan suara sayup mereka berdoa: oh Tuhan, bebaskanlah kami dari negeri yang dikuasai penguasa durjana ini, kirimkan kepada kami, seorang wali sejati, hantarkan kepada kami seorang pembela kesatria ( an-Nisa ) Jangan dianggap mati, meski nyatanya demikian. Jangan ragukan kekasih hati. Ada firman Tuhan; Jangan sebut mati, meski nyawanya sudah tiada. Dia hidup di sisi Illahi. Sentiasa bersukaria ( Ali Imran, 169-170 )
Telah berlalu suatu zaman. Zaman emasnya Selat Melaka. Di kiri kanan tebingnya, berdiri negara-negara berdaulat, yang menjadi tuan negeri sendiri. Buminya subur, rakyatnya makmur, angkatan perangnya kuat, siap menggempur musuh keparat. Tetapi zaman emasnya itu, dirampas penjajah barat Kristian. Dunia Melayu Raya menderita, dirampas kedaulatannya, diperbudakan rakyatnya, dirampok kekayaannya. Jangan berduka, mereka pun menderita. Kalau kamu menderita sengsara, mereka pun, kafir durjana itu, pernah merasa derita serupa. Hari-hari kami gulirkan, antara penghuni bumi ini, Allah ingin mengetahui siapa yang beriman antara kamu. Sebahagian kamu ditafsirkan syahid, Allah tidak menyukai orang-orang yang durjana ( Ali Imran, 160 )

Bagi militer ia merupakan senjata paling berbahaya, menghidupkan semangat jihad terhadap rakyat Aceh. Oleh itu ia harus dilarang baca, simpan atau mengedar, Namun bagi sarjana, seperti Prof. Dr. Christian Snouck Hurgrunje ( 1857-1936 ) seorang ahli Aceh yang sangat luas ilmunya ( Hurgrunje dikirim ke Makkah untuk mendalami Islam bagi strategi perang dan kemudian dikirim ke Aceh untuk mengkaji keampuhan orang Aceh yang kuat kepada pegangan Islamnya ) menaruh perhatian besar kepada Hikayat Prang Sabi. Tentang ketinggian nilai sastra Hikayat Prang Sabi sebagai karya sastra perang telah diteliti secara mendalam. H.T. Damste, seorang ahli bahasa dan sastra Aceh ( pernah menjadi Controleur di Idi Aceh Timur telah membahas dan menterjemahkan Hikayat Prang Sabi ke bahasa Belanda. Naskahnya tersiar dalam Bijdragen Tot de Tad-Land-en Volkenkunde van Nederlandsche Indie Deel 84 diterbitkan di Belanda. Uraian beliau telah membuat lingkungan tertarik kepada sastra Aceh.

Naskah Penyerahan Kedaulatan Aceh yang disiapkan Belanda ditolak mentah-mentah oleh Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah. Naskah tanpa tanda tangan itu disembunyikan oleh Belanda dan baru terbongkar rahsianya setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Ogos 1945. Menjelang pendaratan tentera Jepang di Aceh pada tanggal 12 Maret 1942, rakyat Aceh mengusir Belanda. Belanda lintang pukang lari dari Aceh. Ini amat dihargai oleh Bung Karno yang menganggap Aceh daerah modal perjuangan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Sejumlah perlawanan bangsa Aceh dengan kaum kafir cukup lama. Abad ke 16, Sultan Alaiddin Ali Mughayat Syah, membantai angkatan Portugis di pantai-pantai Aceh ( Lamno, Lubok, Pidie, Pasai ) Akhir abad ke 16, Sultan Alaiddin al Mukammil, dalam pertempuran di Teluk Hru ( Sumatera Timur ) membantai soldadu Portugis dalam peperangan laut yang sangat dahsyat mengorbankan lebih 1000 perajurit Aceh dan dua orang laksamana. Setelah kalah di perairan Sumatera, Portugis menjajah Melaka dengan bersekongkol dengan  raja-raja Melayu di semenanjung antaranya Sultan Johor, Pahang dan lain-lain. Sultan al-Kahhar memerangi Portugis di Melaka dan diteruskan oleh Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam. Walau pun Melaka gagal dibebaskan, negeri-negeri Melayu yang lain di semenanjung berjaya dikeluarkan dari pengaruh Portugis. Aceh adalah kerajaan Islam di Asia Tenggara yang membendung penjajahan fizikal dan mental Kristianitas bangsa barat. Selepas memenang Perang Salib di Empayar Othmaniah, Spanyol, barat dan Kristianitas seakan mengganas pada Islam. Maka di Afrika Utara bentengnya ialah Magribi, Asia Kecil ditangani oleh Turki Othmaniyah, Timur Tengah oleh Isfahan dan benua kecil India oleh kerajaan Islam Agra.

Pada saat pecah Perang Aceh, Sultan Alaiddin Ibrahim Mansur Syah mengerahkan seluruh tenaga dikonsolidasi untuk menentang kolonial.  Seluruh kekuasaan Aceh dari semua peringkat atasan hingga ke pedesaan disokong oleh bangsawan dan ulama sebagai inti aparatur pemerintahan. Belanda memandang Aceh hanya pada Sultannya kerana pengertian Aceh adalah Sultan di atas puncaknya. Belanda tahu menghadapi Aceh bukan hanya  menghalakan seluruh bala tentera dan kekuatan militer dan kapal perang tetapi kebulatan tekad rakyat Aceh mempertahankan kedaulatan. Sejak Sultan Alaiddin Mahmud Syah ( 1870-1874 ) hingga ke Sultan terakhir, Sultan Alaiddin Ibrahim Mansur Syah, Aceh tidak dapat ditundukkan. Aceh telah melahirkan tokoh-tokoh mujahid dan pahlawan-pahlawan perang Aceh seperti Teungku Tjhik Muhammad Saman Tiro, Teuku Panglima Polem, Teuku Lung Bata, Teuku Umar Pahlawan, Tjut Nyak Dhien, Tjut Meutia, Panglima Nyak Makam, Teungku Haji Muhammad yang terkenal dengan Teungku Tjhik Pante Kulu, penyair Hikayat Prang Sabi.

Peristiwa Prang Sabi adalah ketidaksanggupan Nievwenhrijzen memahami apa yang tersirat daripada surat balasan Sultan yang telah menjerumuskan soldadu-soldadu Belanda ke kancah perang. Agresi Belanda yang pertama di bawah pimpinan Major Jeneral Kohler dengan bentrokan pada 5 April 1873, setelah 15 hari bertempur, Major J.H.R. Kohler sempat melarikan diri pada 15 April 1873 ke kapalnya sementara Nieuwenhuijzen lari ke Pulau Pinang dengan kapal Citadel van Antwerpen pada 1 April 1873 setelah menyatakan matlamat perangnya 26 Merat 1873. Pernyataan lengkapnya berbunyi:

Komisaris Gubermen Hindia Belanda untuk Aceh. Menimbang bahawa bagi Gubermen Hindia Belanda terpukul kewajipan untuk membersihkan segala rintangan dalam memelihara kepentingan umum atas perniagaan dan pelayaran di kepulauan Hindia Timur: Bahawa kepentingan umum itu telah terganggu oleh berlanjutnya pertentangan antara sesama negeri rantau takluk Aceh, diantaranya ada yang telah datang meminta bantuan Gubermen Hindia Belanda, tetapi masih saja belum bisa diberikan. Belanda keinginan yang berulang-ulang dikemukakan oleh Gubermen supaya keadaan sedemikian jangan terjadi lagi dan keinginan supaya ditentukan kedudukan Aceh dalam hubungan yang lebih tepat kepada Guberman Hindia Belanda, tetapi selaku sahaja terhambat oleh  keengkaran dari pihak pemerintah kerajaan Aceh dan oleh kelengkapan kerajaan itu untuk memelihara pemerintah kerajaan Aceh dan oleh kelengahan kerajaan itu untuk memelihara ketertipan dan keamanan yang diperlukan daerah takluknya.

Bahawa percubaan untuk keperluan itu telah disumbat dengan amat curang di kala Gubermen Hindia Belanda sedang didekati dengan maksud membina hubungan lebih akrab dengan Aceh: Bahawa telah diminta penjelasan kepada Sultan Aceh, mula-mula dengan surat tanggal 22 bulan ini sudah itu pada tanggal 24 hasilnya tidak hanya tidak diberikan sama sekali penjelasan itu, tetapi juga telah tidak dibantah segala apa yang didakwakan dalam surat itu dan lebih dari itu pula telah digiatkan mengumpulkan apa saja untuk mengadakan perlawanan.

Bahawa dengan itu tidak bisa lain ertinya selain bahawa Aceh menentang Gubermen Brlanda dan sikap permusuhannya semula hendaklah dipertahankan kaumnya: bahawa kerana itu pemerintahan kerajaan Aceh telah bersalah melanggar perjanjian yang sudah diikat dengan Guberman Hindia Belanda bertangga; 30 Maret 1857 tentang perniagaan, perdamaian dan persahabatan yang kerana itu menyakinkan bahawa pemerintahan kerajaan tersebut tidak dapat dipercayai:

Bahawa permintaan Hindia Belanda dalam kacau sebagai ini merasakan  tidak mungkin lagi mempertahankan kepentingan umum sebagai yang diperlukan demi keamanan sendiri di bahagian utara Sumatera, apabila tidak diambil tindakan kekerasan. Dengan ini, atas dasar wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh pemerintah Hindi Belanda, ia atas nama pemerintah, menyatakan perang kepada Sultan Aceh. Dengan pernyataan ini setiap orang diperingatkan terhadap beradanya mereka di bawah akibat perang dan kewajipan yang harus dipenuhi dalam perang.

Surat itu termaktub di atas kapal perang Citadel van Antwerpen yang berlabuh di Aceh Besar, Rabu 26 Maret 1573 ditandatangani oleh Nievwenhuijzen.

Satu kenyataan sejarah, bahawa sesudah Perjanjian 1857, tidak ada lagi pembaharuan hubungan antara Aceh dengan Hindia Belanda. Tidak ada istilah penyerahan kedaulatan kepada Belanda dan tidak ada penanda tangan Sultan dalam hal tersebut. Ketika Sultan dalam tawanan Belanda tetap mengadakan pertukaran dengan cuba membuat perhubungan dengan Kaisar Jepang. Walau hubungan tidak berhasil secara fzikal, tetapi politis hal itu berarti bahawa Sultan tidak mengakui kedaulatan Belanda atas Aceh dan pembuangan Sultan ke Ambon ( 1907 ) kemudian Betawi ( 1918 ) adalah bukti sejarah, bahawa Sultan tidak pernah tunduk bagi mengakui kedaulatan Hindia Belanda.

Wajarlah Bung Karno berkata, Aceh adalah Daerah-Modal, Modal Perjuangan kemerdekaan dan Modal Kedaulatan bagi bangsa Indonesia.


rujukan

Teungku H.A. Hasjmy ( Ali Hashim ) Perang Kemerdekaan Aceh,
         Pertemuan Selat Melaka, Melaka, 1998

Thursday, June 23, 2011

PENGUCAPAN TABU SEKSUALITAS DAN PENULIS WANITA INDONESIA

Djenar Maesa Ayu
Sejarah kemunculan penulis wanita di Indonesia dikesan seawal tahun 1930-an, melalui novel Kalau Tak Untung karya Selasih dan Kehilangan Mestika karya Hamidah. Ketika itu hanya beberapa novel dan cerpen saja yang ditulis oleh penulis seperti Titie Said, Titis Busino, Tjahjaningsih, NH Dini, La Rose, Yati Maryati Mihardja dan lain-lain bertambah subur ( Hellwig, 2003 )  Pada tahun 1998, apabila berlakunya eforia politik pasca kejatuhan Suharto, ia membawa pengaruh besar terhadap industri penerbitan buku serta pengucuran deras ekspresi penulis-penulis muda wanita. Karya mereka telah membawa mainstream dan trend baru kepada perkembangan sastra Indonesia. Mainstream yang hadir secara kontradikatif, muncul tema-tema sastra erotis yang sangat berani membongkar tabu-tabu seksual masyarakat.

Secara tematiknya, seksualitas bukanlah hal yang baru dalam dunia sastra Indonesia. NH Dini pada tahun-tahun 1970-an telah menulis Pada Sebuah Kapal ( 1973 ) sebuah novel yang banyak menceritakan tentang wanita, mengekspresi dan mengekplotasi keterbukaan seksual. Walau pun NH Dini hanya mengulang apa yang ditulis oleh penulis lelaki, namun sebagai seorang wanita ekspresi NH Dini terhadap seksual dikira penampilan yang berani. Dalam tempoh kebrandelan kasus politik 1998 di Indonesia, menelorkan Ayu Utami, sosok penulis wanita yang mendobrak sastra Indonesia dengan tabu seksual secara radikal dalam novelnya, Saman. Sebuah karya yang di dalamnya mengalir deras dengan kosa-kata seperti sanggama, penis, klitoris, vigina, orgasme seenaknya saja. Novel Saman telah diangkat sebagai pemenang sayembara ( 1998 ) dan muncul sebagai best-seller. Ia diikuti oleh Larong, sebagai kesinambungan Saman ( 2001 ) yang menjadi fenomina dan insprirasi penulis wanita berikutnya, menulis dengan lebih terbuka.

Ayu dilihat lebih berhasil menciptakan representasi seksualitas yang berbeda dan lebih kewanitaan dari karya-karya sebelumnya ( Bandel, 2005 ) jauh dan nilai heteronormatif dan felosentris. Dewi Lestari melalui novelnya Supernova ( 2002 ) dan Djenar Maesa Ayu dengan kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet ( 2002 ) dan Jangan Main-Main Dengan Kelaminmu ( 2004 ) lebih brutal. Nova Rianti Yusuf melalui novel Maha Dewa Maha Dewi dan Herlinanties dengan Garis Tepi Seorang Lesbian. Jangan Main-Main Dengan Kelaminmu sarat dengan manusia terluka, marginal dan dikhianati. Seks menjadi lingkung brutal dan ekstrem. Dalam cerpen Menyusu Ayah, Nayla sejak kecil menyusu penis ayahnya yang kemudian melebar menyusu pada penis teman-teman ayahnya pula. Ketika salah seorang teman ayahnya meraba dada dan kemaluannya, ia merasa integritas dan diperkosa. Ia secara verbal kritikan penulis terhadap penindasan seksualitas gender.

Melalui Maha Dewa Maha Dewi, Nova melukiskan perhubungan seks Kako dan Reno si pasien dan psikiater rumah sakit jiwa dengan sangat terus dan panas. Malah Herlinanties yang merupakan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Yogyakarta menulis novel Garis Tepi Seorang Lesbian. Ia mengisahkan Paria yang gelandangan, bertualangan seksual dengan teman wanitanya sebelum menemukan pasangannya. Kenapakah ia terjadi begini? Keterbukaan, dunia wanita yang terdera begitu lama dan golongan order lama yang tidak terbuka antara punca ledakan tersebut. Dalam konteks budaya Indonesia, wanita dilarang berbicara kotor. Adalah sangat tidak wanita ( unwomanly ) pengarang wanita mengungkap dan mengekplotasi sensitiviti seksualitasnya.

Bertahun-tahun, pejuang sastra feminis seperti Helena Cixous, Julia Kristiva dan Luce Irigary, mendorong wanita membuka matanya menolak segala larangan dan tabu-tabu seksualitas. Namun budaya Indonesia terutamanya budaya Jawa, pelanggaran norma ini adalah penyimpangan dan terkeluar dari nilai-nilai luhur masyarakat dan budaya Indonesia. Kalau kita melihat karya-karya Pramoedya, lihatlah bagaimana wanita-wanita Jawa tersorok sebagai kanca wingking ( wanita dapur ) dalam sistem bangsawan feudal dan aristokratik. Pramoedya cuba mengeluarkan golongan ini seperti dalam Gadis Pantai dan tetrologi Bumi Manusia. Sistem feudal dan aristokratik memperan wanita sebagai penjaga nilai ' halus-kasar ' dan ' adiluhung ' dalam sebuah rumah ( keluarga ) Konsep budaya seperti inji telah dikonstraksikan oleh penguasa dan aristokrat feudal Jawa sejak berkurun-kurun lamanya melalui karya sastra Jawa. Karya-karya sastra Jawa ini umumnya ditulis oleh pujangga dan pengeran istana yang sudah tentu ' sangat laki-laki ' dan bias gendernya. Budaya Jawa mewajibkan wanita sempurna harus masak, macap ( dandan ) manak ( melahirkan anak ) Oleh itu ruang bagi wanita adalah dapur ( memasak ) sumur ( untuk membasuh ) dan kasur ( untuk kebutuhan seksual suami ) Semua resepi wanita Jawa ditulis dalam karya-karya Wulang Putri, Wulang Reh Putri, Serat Wulang Estri Candrarini, Candrarini, Canthini, Darma Wisata, Sutra Juwita ( Soedarsono, 1986 )

Oleh kerana itu, budaya Jawa tidak memungkinkan wanita Jawa mengungkap secara terbuka hal-hal tabu seperti aktivitas seksual, organ-organ seksual dalam perbicaraan. Wanita yang berbicara sedemikian dikira telah melanggar kesopanan, amoral dan tidak beradap. Dalam konteks budaya Jawa, aktivitas seksual adalah untuk laki-laki, kerana wanita adalah pelengkap untuk zuriat. Yang demikian, konsep orgasme adalah milik hakiki wanita yang harus tersorok dan tidak diperhitungkan.

Berkurun-kurun lamanya hal itu terkurung oleh tata keromo dan adiluhung ini sangat dijaga dan disanjung benar oleh laki-laki. Apabila terjadi keterbukaan, kemampuan yang ada pada penulis wanita seperti Ayu Utami. Djenar dan Dewi Lestari, secara bawah sadar perlawanan seksual itu muncul melalui karya. Karya-karya erotis wanita Indonesia itu merupakan ekspresi ketertindasan seksual yang selama ini tertutup rapi kerana tabu-tabu budaya. Kerana rata-rata penulis wanita Indonesia merupakan golongan terpelajar yang terdedah dengan weltanchooung dan woman-lip teori-teori feminis barat yang dipelopori oleh Julia Kristiva, Helana Cixous dan Luce Irigary, yang menyerukan ' tubuhmu adalah milikmu, maka tulislah ' menyemarakkan wanita menulis akan miliknya. Dunia tanpa batas yang semakin menipis beda seksual lelaki-wanita menyuarakan omongan tabu semakin tipis.

Bagi kita pembaca di Malaysia yang membaca karya-karya penulis wanita Indonesia baik prosa atau puisi, semakin teruja dengan kepolosan ungkapan tabu-tabu seksualitas ini. Misalnya penyair wanita seperti Dewi Nova, De Kemalawati, Zubaidah Djohar dan Yessika Susastra mengungkap kata-kata yang masih tabu dalam pendengaran pembaca Malaysia. Kosa-kata seperti bersetubuh, selangkangan, bibirmu di mulut tempat aku dilahirkan, bibirmu di antara pahaku, adalah kata-kata tabu yang masih tidak enak didengar oleh lelaki atau wanita apatah lagi kanak-kanak. Jadi, saya dapati kata-kata tabu seksualitas ini bukan hanya diungkap oleh Ayu Utami, Djenar atau Dewi Lestari tetapi penulis wanita yang lain. Malah dengan adanya fesbuk dan halaman sesawang yang lain, keterbukaan tabu seksualitas ini semakin tidak bisa dikawal bukan hanya lontaran kata-kata tetapi juga dengan visualnya juga.


rujukan

Cahyaningrem Dewojati, Prosiding  Persidangan Antarabangsa Pengajian Melayu, 2006
Ayu Utami, Saman, Gramedia, 2001
________, Larong, Gramedia, 2003
Djenar Maesa Ayu, Mereka Bilang, Saya Monyet, Gramedia, 2003
______________, Jangan Main-Main Dengan Kelaminmu, Gramedia, 2004

MUCHTAR LUBIS : JALAN TAK ADA UJUNG

Muchtar Lubis
 Dua buah novel yang mengingatkan kita kepada Muchtar Lubis ialah Jalan Tak Ada Ujung dan Harimau! Harimau! Jalan Tak Ada Ujung (1952) mendapat Hadiah Sastra Nasional Badan Musyuiarah Kebudayaan Nasional dan Harimau! Harimau! (1975) memperoleh Hadiah Buku Utama departmen Pendidikan dan Kebudayaan. Novel lain yang ditulis oleh Muchtar ialah Tidak Ada Esok (1950) Senja di Jakarta (1963) Tanah Gersang (1966) Maut dan Cinta (1977) dan Manusia Indonesia (1977) Cleira Holt menterjemahkan Senja di Jakarta dengan jodol The Twilight in Jakarta (1963) dan Florence Lamoureux menterjemahkan Manusia  Indonesia dengan jodol  We Indonesia (1979)

Kumpulan cerpennya pula ialah Si Jamal ( 1950 ) Perempuan ( 1955 ) Kuli Kontrak ( 1982 ) Muchtar juga menulis novel kanak-kanak dan menterjemahkan karya-karya asing ke dalam bahasa Indonesia antaranya karya Irwin Show, F. Scott Fitzgerald, William Saroyan, Steinback dan lain-lain. Muchtar selain penulis kreatif juga dikenali sebagai tokoh wartawan Indonesia. Dilahirkan pada 17 Maret 1922 di Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Bapanya bernama Raja  Pandapotan Lubis dari Muara Suro ( Simanambin ) Tanapuli Selatan. Bapanya pernah berkhidmat sebagai Ketua Polis di Kerinci, Sumatera barat ketika pemerintahan Belanda. Mendapat pendidikan awalnya di Padang dan meneruskan pelkajarannya di Sekolah Ekonomi S.M. Latif di Kayutanam, Sumatera Barat. Kerier pertamanya sebagai guru di Pulau Nias. Beliau pernah bekerja di Jakarta dengan bank Factoriij, radio melitari Jepang di jaman Jepang memerintah Indonesia. Kebolehan istimewa Muchtar ialah menguasai pelbagai bahasa antaranya Inggeris, Prancis, Jerman dan Spanyol yang membolehkan beliau menubuhkan agensi berita Antara dan beliau bertindak sebagai pengarahnya.

Pada tahun 1947, beliau menjadi editor akhbar Masa Indonesia. Juga menjadi wartawan akhbar Merdeka dan ketua editor majalah Mutiara. Muchtar mejadi akhbar Indonesia Raya pada tahun 1949 hingga 1974. Sejak tahun 1966, beliau menjadi ketua majalah Horison. Mulai 1970 beliau menjadi pengarah Yayasan Obor.

Zaman pancaroba Muchtar bermula pada tahun 1956, apabila presiden Soekarno menganggap tulisan-tulisan Muchtar membahayakan bangsa dan negara lalu memenjarakan beliau. Setelah 10 tahun iaitu pada 17 Mei 1966. Muchtar dibebaskan  oleh presiden Soeharto. Catatan di penjara telah dibukukan iaitu Catatan Subversif ( 1980 )
Sebagai seorang tokoh wartawan, Muchtar pernah dianugerahkan Anugerah Ramon Magsaysay daripada kerajaan Filipina pada tahun 1958 dan hadiah Pena Emas daripada World Federation of Editors and Publishers. Muchtar juga mendapat penghormatan dengan menjadi Presiden Press Foundition of Asia dan anggota Majlis Pimpinan Internasional Assiocaation for Cultural Freedom dan anggota Federation Mondial
pour Iess Etudes sur le Futur. Pengalamannya dalam bidang kewartawanan ini dibukukan dalam beberapa buku antaranya Perlawatan ke Amerika Serikat ( 1951 ) Perkenalan di Asia Tenggara ( 1951 ) Catatan Korea ( 1951 ) dan Indonesia di Mata Dunia ( 1955 )

Sebagai wartawan, Muchtar tidak saja menulis tetapi juga ditulis. Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Pramoedya menulis;

Waktu ia datang untuk menjabat komandan A.S. Rangkuti memanggil aku ke unit II. Ternyata ada dua orang menteri RI yang hendak bertemu denganku, menteri sosial dan menteri agama, Mintareja dan Mokti Ali. Mintareja menawarkan apa yang ia dapat bantukan. Kontan aku bilang, tanpa malu-malu, kacamata dan Langue et Civillisation Francaisen jilid II dan III, sebagai basa-basi, demi sang pengalaman, dan jangan sampai mengharap jadi kenyataan. Dan memang tidak pernah jadi kenyataan. Angin-anginnya pun tak ada. Waktu itulah Rangkuti membawa aku ke ruang belakang dan memperkenalkan pada Samsi M.S. dengan kata-katanya yang mencuba bergurau: Ini, rajanya yang baru.

Kalau A.S. Rangkuti bekas bintang film itu mencuba mengesani lingkungannya sebagai seorang ' well-bred ', Samsi meninggalkan kesan sebagai orang dalam keadaan penasaran abadi. Berita-berita yang tersadap dari tapol pekerja rumah dinasnya dapat dideretkan sbb: ia seorang perwira Kajang, memilih beberapa belas hektar kebun cengkeh di Tasikmalaya. Seorang yang sekali setahun mandi, pada hari tanggal satu syura' menggunakan perfum Prancis, yang katanya cukup dioleskan pada suatu bagian tubuh, kemudian lewat jaringan menyebar ke seluruh tubuh, di kantongnya selalu ada coklat.

Semasa Letkol Samsi M.S. harapan tapol untuk bisa kembali ke Jawa ditumpas. Unit-unit diperintahkan  membuat papan-papan besar dengan rencana pemerintah, mengaitkan tapol dengan transmigrasi kusus dengan melalui tahab-tahab penilaian. Papan besar semacam itu juga dipasang di perempatan-perempatan yang strategis. Yang membaca adalah para tapol, pejabat dan pejabat tamu. Aku kira penduduk ada tidak pernah membacanya. Mereka, di pedalaman itu belum sempat belajar membaca. Papan-papan itu sebagai penyataan loyalitas para pejabat pada pemerintahnya menyambut kedatangan rombongan Jeneral berbintang empat, Soemitro Pangkopkamtib. Kedatangannya memporakperandakan kandungan papan-papan besar yang dipamerkan. Soemitro justru menjanjikan pembebasan dalam waktu dekat.

Dalam rombongan itu terdapat Jaksa Agung Ali Said dan rombongan wartawan, antaranya Rosihan Anwar dan Muchtar Lubis! ( Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, hal. 288 )

Nah! begitulah sang penulis.

Sunday, June 19, 2011

PEMBERONTAKAN PYANHABIB

Tahun-tahun 1980an ditandai dengan kebangkitan pemberontakan anak muda. Sama ada dunia teater atau pun puisi, riak tersebut semakin terasa. Dalam dunia teater, alm. Abdulaziz H.M. dengan pendekatan teater minikata yang dibawanya dari Jakarta, berkembang di pantai timur. Bersama Marzuki Ali, Wan Ahmad Ismail, Wanafisu dan alm. Razali Ismail, teater pemberontakan berkiprah di sana. Di Kuala Lumpur, Johan Jaffar, Dinsman, Hatta Azad Khan, Meor Hashim Manap dan Zakaria Ariffin meneroka dunia kelam dan samar. Insflakasta, Kerusi, Mayat, Projek Izie antara yang menelorkan revolusi. Lahir sama waktu itu ialah Pyanhabib melalui puisinya Suara ( Kuala Lumpur, 1982 ) dan Saraf Dukaku ( Kuala Lumpur, 1985 ) sebagai manifestasi gejolak rasa anak muda.

Pyan atau nama sebenarnya Mohd. Supyan Abdul Rahman dilahirkan di sebuah kampung di daerah Taiping, Perak, Malaysia pada 27 Mei 1958. Sejak usianya 11 tahun beliau telah kehilangan pendengaran akibat demam panas yang dihidapinya. Pendidikannya hanya sekadar Sijil Rendah Pelajaran serta sedikit ilmu agama yang dipelajari di pondok. Dengan sedikit pengetahuan membaca dalam jawi, Pyan mengenali nama-nama tokoh sastra seperti Latiff Mohiden dan Komunitas Anak Alamnya. Lalu dikuatkan azamnya untuk ke Kuala Lumpur. Suatu hari pada tahun 1975, dengan hanya hadir sehelai sepinggang, Pyan sampai ke Kuala Lumpur dan ditakdirkan berjumpa dengan tokoh pujaannya Latiff Mohiden, Mustaffa Ibrahim dan lain-lain di sebuah kedai Batik di Jalan Melayu. Bermulalah kehidupan beliau sebagai seorang seniman di bumbung Komunitas Anak Alam di Persiaran Tun Ismail, Kuala Lumpur atau lebih terkenal dengan Padang Merbuk ( di mana terletaknya Akademi Seni dan Budaya Warisan - ASWARA, sekarang ) Sejarah kegemilangannya mula terukir apabila beliau menempati sebuah ruang di majalah Dewan  Sastera ( April 1979 ) dengan rencana ' Pyanhabib: Raungan Pilu Memberontak ' diwawancara oleh Dinsman. Lanjutnya, puisi pertamanya telah tersiar di Dewan Sastera ( Juli 1979 ) Puisi ( atau sekadar catatan tanpa jodol ) berbunyi demikian;

setiap hari kita membaca suratkabar
yang menyiarkan berita tentang permainan kanak-kanak
hingga jentera roket
seterusnya kita lihat orang-orang mencipta jentera
dari pasir dan batu
dan kita dapat asap telah menghitamkan udara

Tulisan ini diilhamkan sesampainya ke Kuala Lumpur pada tahun 1975 dalam usianya 17 tahun!

Seterusnya Pyan tanpa memandang ke belakang lagi dan memacu dirinya dalam dunia puisi Malaysia.

Menceritakan tentang pertemuannya dengan Latiff Mohiden, ia mendatang nostalgia indah bagi Pyan. Suatu ketika ditemui Latiff yang bersiap hendak ke pameran seni lukis di Dewan Perniagaan Cina di Bulatan Dewan Bahasa, Pyan menghulurkan autograf kepadanya. Latiff hanya menulis, ' Nak hujan, hujanlah ' Memang kebetulan hari mahu hujan. Di pihak Latiff pula menceritakan, Pyanhabib dari hari ke sehari ikut serta dalam setiap kegiatan sampingan kami, terutama dalam kegiatan sastra. Kususnya acara pembacaan puisi. Di malam hari kelihatan dia tekun menulis, mengetik baris-baris sajak yang akan dibacanya keesokkan harinya dengan segala keriangan, dengan segala gaya mimik kepada teman-temannya. Keistimewaannya membaca, mendeklamasi puisi itu mula mendapat perhatian orang ramai. Sebagai pendeklamasi yang mempunyai ' gaya ' istimewa dia kemudian bisa saja menarik perhatian audion. ( Latiff Mohiden, 1986:27 )

Pada tahun 1982, bercerita-cerita dengan teman-temannya, Nasir Jani, Pyan ditarik untuk jadi pelakon film. Lantas okey saja, beliau pun berlakon film Kembara Seniman Jalanan bersama pelakon utamanya M. Nasir,  Khatijah Ibrahim, Ito dari group Blues Gang dan Ramli Sarip dari group Sweet Charity. Mulai dari itu, banyak film yang beliau lakonkan antaranya Syyy.., Tsu Feh-Sofiah, Tak Kisahlah, Beb!, Rozanna Cinta, 87, Matsom dan lain-lain. Mengenai profesinya sebagai wartawan di majalah Mastika, Pyan menyatakan ia bermula pada tahun 1982, ketika beliau membaca puisi meraikan Dr. Mahathir, Pak Mazlan Nordin, Pengarah Urusan Utusan Melayu mempelawa beliau menyertai Utusan dan ditempatkan di majalah Mastika. Barangkali terkesan oleh puisi ' Lapar ' yang bercerita tentang orang gelandangan, ya, Pyan okey saja menerima pelawaan kerja tersebut.

Beberapa puisi kecilnya yang terdapat dalam kumpulan puisi Suara seakan identitinya.

tiga sajak kecil

taman

maaf
kalau aku tersentuh
susumu yang penuh

surat cinta

kata-kata berhamburan
bagai bunyi air terjun
dan berahi haiwan di hutan

misteri

mari kita bercinta
Kau
   kau
jangan bunuhku

4 oktober 1980

luka

seperti siput mengembara
ketika air sedang surut
- aku mengembara
begitu siput
dengan mulut penuh lumpur
- terkapar
begitu aku
jadi nanar
dan tersungkur
dengan mulut terbuka
menghulur
lidah terbakar

1977

27 mei sebuah memori

malam
masa silam seorang bayi meraung
- tidurku telah diganggu -
' pyan
aku tak sempat belikan hadiah
bergembiralah
aku doakan kau panjang umur
dan selamat berkarya '
                                hanafiah

mataku tiba-tiba berkaca

siang
masa silam seorang bayi meraung
- ku beri kau salam -
' pyan
terima kasih
selamat hari jadi
bila senang akan datang lagi '
                                   evelyn

mataku tiba-tiba bercahaya

27 mei 1979


Namun puisi Pyan yang paling diingat ialah Suara.

sepi berguling pada tebing bukit-bukit bening
pedih memilu
resah mengerang pada jurang gaung-gaung garang
pahit mengilu
hey
pernahkah engkau  melihat aku mundar-mandir
di lorong-lorong usang hanyir
pernahkah engkau
hey
pernahkah engkau melihat aku tersungkur-mundur
di warung-warung gelas anggur
pernahkah engkau
adalah aku yang sering menggigil
sewaktu aku yang sering menerjang
sewaktu terasa hari-hari begitu panjang

resah ku bakar bagai bintang gugur ke bumi
KE BUMI

seringkali terdesir dan menyelinap
ke penjuru ruang kamar pengap
siapakah yang datang mengetuk pintu itu
dan memanggil-manggil namaku
aku tidak pasti meski pun berkali-kali
engkau ku susuri
suara
         suara
                  suara
di manakah suara itu
ke manakah menghilang
sepi pun menurun
aku menjadi rindu
suara
         suara
                  suara

1975

* ( dedikasi kutujukan tulisan ini untuk harijadimu, saudaraku Pyanhabib )


rujukan

1. Dewan Sastera ( Ogos 1986 )
2. Suara ( Kuala Lumpur, 1982 )

Pyan di sisi keluarga bahagianya..

MUHAMAD HAJI SALLEH - SI TANGGANG MODEN

Apabila kumpulan puisinya berjodol Sajak-Sajak Pendatang ( 1973 ) dan Buku Perjalanan Si Tanggang II ( 1975 ) diterbitkan, terasa ada bicara lain dalam dunia kepenyairan Malaysia ketika itu. Ini diikuti pula oleh Ini Juga Duniaku ( 1977 ) Sajak-Sajak Sejarah Melayu ( 1981 ) Dari Seberang Diri ( 1982 ) Kalau, Atau dan Maka ( 1988 ) dan Watak Tenggara ( 1993 ) Muhamad diakui memilih jalur lain untuk sampai ke puncak. Beliau memilih jalan ilmu dan intelektual.

Kekuatan Muhamad Haji Salleh dalam puisi terletak pada keupayaannya merakamkan kuasa dan peranan intelek. Muhamad membawa gagasan intelektual dalam puisinya. Hampir semua puisinya terletak pada ketajaman akal dan bukan didorong oleh emosi berlebihan. Kepadatan tersebut serta pengawalan emosi terlihat dalam beberapa buah puisi seperti ' Di Kubur Chairil ', ' Intelektual ' dalam kumpulan Sajak-Sajak Pendatang ( 1974 ) ' Pulang Si Tanggang ' dan ' Manusia ' dalam Buku Perjalanan Si Tanggang II ( 1975 ) Kesan penyuaraan dari puisi tersebut terasa di dalamnya perjuangan serta pengolahan antara perasaan dengan pemikiran. Oleh itu, Muhamad agak wajar dianggap sebagai penyair pertama Malaysia yang memanfaatkan sepenuhnya unsur pemikiran dalam puisi Melayu ( Dr. Norhayati Abdul Rahman. Fesbuk 24 Mei 2011 )

Sejarah petualangannya juga bergeser. Pernah menjawat beberapa jawatan akademik di luar negara. Antaranya Profesor Tamu di bawah rancangan Fulbright-Hays ( 1981-1982 ) menduduki Kerusi Tun Abdul Razak di Ohio University dan Kerusi Pengajian Melayu di Universiti Leiden ( 1993-1995 )  Pada tahun 1995, Universiti Kebangsaan Malaysia mengambil beliau sebagai Pengarah Institut Alam dan Tamadun Melayu ( ATMA )

Muhamad Haji Salleh dilahirkan pada 26 Maret 1942 di Taiping, Perak, Malaysia. Didikan awalnya ialah di Sekolah Rendah Sungai Aceh, sebelum ke Sekolah Tinggi Bukit Mertajam, Seberang Prai, Pulau Pinang dan Maktab Melayu Kuala Kangsar, Perak. Beliau juga pernah belajar di Sekolah Arab Masriyah, Bukit Mertajam dan Malayan Teater College, Brinsford Lodge, England pada tahun 1964. Pada tahun 1965, beliau memasuki University of Singapore dan memperoleh Ijazah Sarjana Muda Sastra ( 1977 )  Kemudian menyambung tugasnya di Jabatan Pengajian Inggeris, Universiti Malaya Kuala Lumpur dan mendapat Ijazah Sarjana Sastra ( 1970 )  Tahun berikutnya beliau ke University of Michigan, Ann Arbor, Amerika Serikat dan mendapat Ijazah Doktor Filsafat pada tahun 1974.

Beliau pernah dilantik menjadi dosen ( pensyarah ) dan Ketua Jabatan Pengajian Bahasa dan Kesusasteraan Inggeris, Universiti Kebangsaan Malaysia ( 1970 )  Beliau juga menjadi ketua Jabatan Pengajian Melayu, UKM ( 1976-1977 ) dan gelaran profesor diterima pada 1978.

Melihat kembali jalur kreatifnya, Muhamad mula menulis sejak pengajiannya di Singapura. Beliau memenangi Peraduan Menulis rencana anjuran Utusan Kanak-Kanak Singapura. Ketika di Brinsford Lodge, Muhamad semakin serius menulis puisi dalam bahasa Melayu dan Inggeris untuk belutin Suara Brinsford.  Beliau mendapat asuhan menulis puisi dari D.J. Enright ketika di University of Singapore dan Robert Heyden ketika di Michigan.

Beliau mula serius menghasilkan puisi bahasa Melayu ketika bertugas sebagai Pengarah Institut Bahasa, Kesusasteraan dan Kebudayaan Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia berbanding bahasa Inggeris sebelumnya. Sebagai seorang seniman akademik, Muhamad menghasilkan buku akademik seperti Tradition and Change in Comtenporary Malay-Indonesia ( 1977 ) Selections From Comtenporary Malaysia Poetry ( 1978 ) Pilihan Puisi Baru Malaysia-Indonesia ( 1980 ) Pengalaman Puisi ( 1984 )  Cermin Diri - Esei-Esei Kesusasteraan ( 1985 ) Puitika Melayu : Suatu Pertembungan ( 1989 ) Menyeberang Sejarah ( 1999 ) Muhamad diangkat menjadi Sasterawan Negara bagi negara Malaysia pada tahun 1991.

Saya mula mengenali beliau melalui bacaan puisinya, Bacaan Puisi-Puisi dari Malaysia ( Kaset, DBP, 1980 ) Beliau mendeklamasikan puisi Pulang Si Tanggang dan Ceritera Yang Ke Dua Puluh Enam. Jelas sekali Muhamad mengambil pletform sejarah, menyaring dan menginti-maknakan dengan penuh rasa sadar anak Melayu yang intelektual. Muhamad pernah mengatakan begini terhadap dirinya.

Takdir membawa saya ke jalan lain untuk pulang kepada kesusasteraan Melayu dan kesusasteraan Nusantara. Masyarakat Melayu yang terbiasa untuk ratusan tahun, dengan heirarki dan budaya feudal yang tegar jarang diberi tempat dan kebebasan. Kritikan hampir-hampir tidak ada sehingga akhir kurun ke 19. Pada tahun 1965, saya berpeluang menuntut ke University Singapore dan mengikuti kursus Kesusasteraan Inggeris, Filsafat dan Sains Politik. Guru-guru kesusasteraan Inggeris saya percaya landasan praktical criticism yang memaksa saya menulis kritikan tentang sesebuah sajak dalam waktu yang relatif singkat. Walau pun pada mulanya saya merasa benci tetapi akhirnya saya menikmati dan rasa menilai ( 1999 )

Didikan itulah barangkali kitaran yang dipunyai oleh Muhamad dari penyair seangkatannya yang lain. Muhamad justeru melihat dan mengkaji pelbagai aspek puisi di Nusantara untuk menemukan jati dirinya. Hingga puisi-puisi Muhamad semacam ledakan reformasi keilmuan tentang sifat dan makna Melayu.

Puisi yang sangat diingati ialah  Ceritera Yang Ke Dua Puluh Enam.

Dan segala anak Melayu
bagaimana besar dosanya
jangan sekali kamu bunuh
melainkan dosanya derhaka
kerana segala anak Melayu itu
tanahmu

Melayu itu tanahmu
bangsa dan negerimu
kamu besar dan raja padanya
laut dan pantai
di semenanjung ini
laut-laut Samudra dan Riau
Kedah dan Pahang
Kelang dan Muar
adalah air dan tanah bangsamu

Hormatilah orang berilmu
orang yang setia dengan bangsamu
betapapun tidak setujunya

Melayu hanya besar dengan kebebasan
bahawa mereka bebas dan besar
di pelabuhan kita di seluruh dunia bertemu
bahasa kita difikirkan
adat kita akarnya di sini

[ dipetik dari Bacaan Puisi-Puisi Dari Malaysia ( kaset DBP, 1980 )]


rujukan

1. Ensaiklopedia Sejarah dan Kebudayaan  Melayu ( DBP, 1994 )


Muhamad Haji Salleh dan A. Samad Said sedang melontarkan wacananya

MALAKA - PADANG - JAMBI

barangkali sebuah jembatan segi-tiga
harus dibena di atas tiga kota
malaka-padang-jambi
untuk kita beristirah bersama

seekor anak kijang
Garis - Latiff Mohiden
dengan trompet di mulutnya
bercerita tentang kesuraman malam
ketika bintang menyorokkan
kerdip kemerlapnya

akupun melayang terbang
mencari kekasih-kekasih yang hilang
dalam persuratan kembang jaman
di manakah terbuang?

malaka-padang-jambi
sibakkan kekelabuan
kita renangi kejauhan
menjadi padang permainan

18 jamadilakhir 1432/ 22 mei 2011

SAGA - BUAH HATI ABDUL TALIB HASSAN

Saga ( Utusan Melayu, 1976, 388 hal. ) merupakan novel yang diangkat menjadi pemenang Hadiah Novel Gapena 1976. Saga, buah tangan Abdul Talib Hassan ( al-Taha ) yang selama ini terkenal dengan drama-dramaya Penantian, Anjang Aki, Pesta Malaikat dan lain-lain. Saga mengisahkan perjuangan 3 orang sahabat iaitu Rahmat, Hisham dan Munirah untuk membangunkan Kampung Batu Ragi. Selepas melintasi Gemas, melalui jalan darat sepanjang 11 batu mereka sampai ke Batu Anam dan mengarus ke hulu Sungai Muar melintasi beberapa kampung kecil sebelum sampai ke Batu Ragi. Dengan usaha mereka, kampung Batu Ragi akhirnya mendapat bekalan eletrik dan mempunyai jalan tar yang membolehkan motosikal digunakan untuik mengangkut buah-buahan ke bandar. Aktivitas komunis juga dapat dibendung dengan kampung yang semakin maju. Namun fokus Rahmat membangunkan kampung akhirnya telah membentang benang halus hubungannya dengan Munirah, temannya sejak dari kampus yang dikahwininya.  Hati Munirah terasa kosong lantas beralih kepada Hisham lelaki yang sangat dikasihi sejak di universitas tetapi terjebak cinta tiga segi antara Munirah-Hisham-Rahmat. Rahmat dengan siasahnya walau bukan dengan sepenuh kesetiaan dan cintanya terhadap Munirah, telah bertindak di luar batas kesetiaan dan pengorbanan seorang kawan, Hisham, lantas menikahi Munirah. Dan akhirnya Rahmat sedar bahawa bibit-bibit cinta Munirah-Hisham adalah lebih kukuh dan tulus dan berusaha melepaskan  ikatan perkahwinannya dengan Munirah.

Saga adalah kisah perjuangan, edialisme dan cinta 3 segi yang unik. Telah banyak diperkatakan tentang kehebatan novel yang memenangi hadiah Gapena ini. Penulisnya, Abdul Talib Hassan ( al-Taha ) lahir pada 11 Oktober 1947 di Teluk Intan, Perak. Pernah mengikuti kursus di Pusat Latihan Harian, Teluk Intan ( 1965-1967 ) Dengan belajar sendiri beliau lulus Sijil Pelajaran Malaysia ( 1965 ) dan kemudian mengajar di Sekolah Kebangsaan Simpang Loi, Segamat, Johor.

Kegiatan penulisan seawal 1960 dengan genre cerpen, novel dan skrip drama pentas. Beliau sering memenangi hadiah. Dramanya Pesta Malaikat telah memenangi hadiah Saguhati Peraduan Menulis Skrip Drama anjuran Majlis Drama Malaysia. Jalan Jahanam memenangi hadiah saguhati Menulis Drama anjuran Kumpulan Seni Teater Malaysia. Saga ( 1976 ) menang hadiah novel Gapena. Novel Pelarian menang sayembara novel Hari Guru ( 1978 ) Pak Hitam menang hadiah novel kanak-kanak DBP. Penantian memenangi drama pentas DBP ( 1978 ) Penantian kemudian diadaptasi ke drama televisyen menjadi Anjang Aki yang sangat popular itu ( 1980 ) Novel Warisan ( Creative, 1989 ) memenangi hadiah ke 2 Gapena-Yayasan Sabah di belakang Hari-Hari Tearakhir Seorang Seniman, Anwar Ridhwan. Drama Suatu Perhitungan mendapat hadiah menulis Drama berunsur Islam, Jabatan Perdana Menteri. Antara novel lain yang diterbitkan  ialah Bayang-Bayang Ungu ( 1978 ) Khailee ( 1985 ) Warisan ( 1989 ) Di Rahang Sumpah ( 1992 ) Saga 2 ( 1991 ) Saga 3 ( 2001 ) Beliau bertugas sebagai guru di Segamat, Johor dan telah bersara beberapa tahun yang lalu. Abdul Taib Hassan mempunyai kedudukannya sendiri dalam sastera Malaysia dan rantau nusantara.

LATIFF MOHIDIN - SAJAK-SAJAK DINIHARI

 
Latiff Mohidin mencipta dalam satu period pembangunan dan modenisasi yang telah bebas daripada tekanan pentadbiran kolonial dan justru itu memberikan lebih banyak perhatian terhadap masalah pertumbuhan peribadi daripada masalah sosiopolitik. Latiff adalah penulis yang tumbuh dengan pendidikan moden yang luas dan oleh kerana beliau adalah pelukis-penyair yang paling banyak mengembara di Eropa berkesempatan pula berkenalan dengan tradisi dan sastera dunia yang beragam ( Wajah, Biografi Penulis, 1981, hal. 376 )

Latiff Mohidin dilahirkan pada 20 Ogos 1938 di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia. Pendidikannya mula menyerlah apabila beliau mendapat biasiswa untuk melanjutkan pelajarannya di King Goerge V Seremban hingga lulus School Certificate ( 1959 ) Latiff berpeluang ke Academy of Fine Arts, Berlin ( 1960 ) Kemudian mendapat grant untuk kursus di Atelier La Courrriere, Paris dan biasiswa Rockefeller di Pratt Graphic Centre, News York, Amerika Serikat. Seterusnya beliau berkeliling dunia dalam kembara seninya sambil melukis dan menulis puisi. Antara puisi awalnya yang menarik perhatian umum ialah sungai mekong.

1
sungai mekong
kupilih namamu
kerana aku begitu sepi
kan kubenamkan dadaku
ke dasarmu
kaki kananku ke bulan
kaki kiriku ke matari
kan kuhanyutkan hatiku
ke kalimu
namamu ke muara
suaraku ke gunung

2
sungai mekong
nafasmu begitu tenang
lenggangmu begitu lapang
di tebing mu
ada ibu bersuara sayu
mencari suara puteranya yang hilang
waktu ia merebahkan wajahnya
ke wajahmu
kau masih bisa tersenyum senang

3
sungai mekong
akhirilah tari siang riakmu
kulihat di dasarmu
kuntum-kuntum, berdarah
batu-batu luka
malam ini
ribut dari utara akan tiba
tebingmu akan pecah
airmu akan merah
dan arusmu akan lebih keras
dari niagara

( vientiane 1 februari 1966 )

Melalui puisi ini Latiff telah tersenarai sebagai penyair surealisme paling berpengaruh waktu itu. Kehadirannya sangat menggugah ramai penyair lain. Sungai Mekong sangat peribadi namun mempunyai logis antarabangsa. Apabila beliau menulis sebuah bas berwarna biru, ketakjupan audion bertambah semarak.

sebuah bas berwarna biru
tanpa nombor dan pemandu
merangkak
antara kenderaan-kenderaan
penuh darah

kalau ia berhenti
di depanku
kan kubeli
sebuah tiket berwarna biru
tanpa humor dan lagu

saudara
waktunya telah tiba
untuk aku melangkah kaki
tiket yang kubeli
terasa panas di tangan

bas berwarna biru
telah membuka pintu
waktunya telah tiba
untuk aku
mengenal derita

( kuala lumpur 22 mei 1965 )

Umur Junus mengatakan Latiff dipengaruhi Chairil Anwar dalam pengekonomisan bahasa. Sebelum Latiff terdapat percubaan beberapa penyair yang cuba mengekonomikan bahasa tetapi ternyata artifisal. Latiff selain mengandaikan kalimat dalam puisinya tetapi juga pemilihan bahasa dan visual. Kalau dilihat sajak sebuah bas berwarna biru, luarannya begitu bebas namun di dalamnya penuh dengan interpritasi. Bas jangan dilihat sebagai bas semata kerana keajaipan-keajaipan yang diperlihatnya. Barangkali sebelum ini belum ditemukan sajak sedemikian interpritasinya. Dan memangnya kontradik antara isi dan luarannya. Sehingga ia dapat ditanggapi dengan pelbagai kemungkinan.

Kumpulan puisi Sajak-Sajak Dinihari ( Makruf Publisher, Selangor, 1996, 99 hal. ) adalah kumpulan ke 6 selepas Sungai Mekong ( 1972, 75 hal.  ) Wayang Pak Dalang ( 1977, 57 hal. ) Serpihan Dari Pedalaman ( 1979, 42 hal. ) Pesisir Waktu ( 1980, 62 hal. ) Rawa-Rawa ( 1992, 42 hal. ) Sajak-Sajak Dinihari memuatkan puisi-puisi yang lebih sufisisme. Dimulai dengan Dua Kalimat.
( hal. 2 )

Terapung
di gaung malam

Dua kalimat
berpelukan

Sepasang degup
melambung ke angkasa

Adam tak berkerlip
menyaksikan

( 27 nov. 1988 )

Sangat ekonomis. Dua kalimat. Apa maksudnya? Apakah kalimat yang telah dipersonifikasikan itu sepasang kekasih? Kerana pada hujungnya, Adam tak berkelip/ menyaksikan. Atau sepasang kalimat itu Allah-Muhamad? Dan Adam tak berkelip/ menyaksikan.

Dalam sajak Aku Lapar ( hal. 7 ) Latiff menulis;

Aku lapar
kauberi aku pasir
aku haus
kauberi aku angin

Pasirlah makananku
anginlah minumanku

Aku pun
tidak lagi meminta
kerana aku tahu
segala yang kauberikan
adalah permulaan rahsia

Sebentar lagi
aku akan semesta
dengan limpahan sunyimu
aku akan berpesta
dengan curahan sinarmu

( 1979 )

Aku Lapar adalah manifestasi derita kekosongan jiwa. Barangkali penyair ketika itu merasakan betapa kosongnya jiwa hingga merasa sesuatu yang perlu dimaknai terhadap hariannya. Ini dapat ditandai dengan kalimat beliau,

aku lapar
kauberikan aku pasir
aku haus
kauberikan aku angin

Dalam Mata Gerhana, Latiff menulis,

1
mata gerhana
lingkaran api yang hitam

mengingatlkan kami
pada kilatan mata kapak
di dada pohonan
retak pundak bukit-bukit
rusuk sungai yang berdarah

Pada ribuan mata kelawar
memancar dari runtuhan gua-gua
di pekat malam

Pada taufan abadi
mata angin dan mata air
yang meratap di bawah kota raya
di sepanjang khatulistiwa
pada mata benda yang berlumuran
di tapak tangan

2
Mata gerhana
lingkaran api yang hitam
kau belum sempat menyaksikan
akar yang merah membara
begitu lama terpendam liar
di liang mata manusia

( 11 nov 1988 )

Mata gerhana melambangkan pandangan nista jagat dunia. Betapa bobroknya dunia dengan segala macam sengketa yang tidak renti-renti melanda. Penyair merasakan bahawa inilah dunianya yang dihuni. Lantas memasrahkan apa pun jatah kejadian kepada kebijaksanaan manusia menguruskannya.

Inilah suara Latiff Mohidin. Walau pun beliau tidak terikat lagi dengan sosiopolitik, tetapi keadaan sekeliling adalah jatah daripada keadaan tersebut. Sajak-Sajak Dinihari menyatakan kekeliruan itu. Ketika dinihari disignifikenkan sebagai malam penuh istirahat namun di dalamnya penuh dengan selirat hitam oleh manusia pada jagatnya. Dan penyair menyela-nyela melalui puisinya.

* Sebagai nota tambahan

Sungai Mekong ( 1974, 75 hal. ) termasuk terjemahan bahasa Cina diterbitkan oleh Tan Swee Hian dan May Sook Ching. Dalam tahun 1981, diterbitkan  semula oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur dengan terjemahan Inggerisnya oleh Mansor Ahmad Saman.

Sungai Mekong mengandungi 38 buah puisi yang dihasilkan sepanjang 1960 hingga 1970 mengandungi puisi sungai mekong ( vientiene. 1 feb 1966 ) sebuah bas berwarna biru ( kuala lumpur, 23 mei 1965 ) tidak kita sedari ( singapura, mac 1968 ) kebakaran ( berlin, 6 januari 1968 ) cinta dari sebuah kamar ( seoul, ogos 1970 ) pohon cemara ( copenhagen, 15 okt. 1966 ) kalau kau mau ( hong kong, julai 1970 ) merupakan renungan dan pemikiran penyair terhadap budaya, sosial dan ekonomi di beberapa tempat yang digubah dalam minda Melayu dengan eleman pantun dan syair. Kita temui bentuk visual seperti zig-zag dan anak tangga seperti banjir, setitis darah atau satu perspektif, pepisahan, burung-burung hitam, masih kudengar dan lain-lain. Puisi pendek Latiff sangat menguja dan mendapat perhatian yang sangat menghiburkan.

Saturday, June 18, 2011

ENAM PUISI SUHAIMI HAJI MUHAMAD

Suhaimi Haji Muhamad, satu nama besar dalam dunia puisi Malaysia. Penyair yang dikatakan menyimpang di kalangan penyair sezamannya. Sajaknya lari dari sajak komunikatif, dan dikatakan sangat prosaik. Sudah tentu premis yang dikemukakan oleh Laurrane Perrine dapat diambilkira yang mengatakan pengalaman penyair sangat mempengaruhi karya penyair. Dasar makna, skima baris, sukatan dan bunyi dapat membantu menilai keseluruhan puisi. Dan apabila dilihat pada keseluruhan hasil tulisan penyair dalam sebuah kumpulan puisi malah puisi-puisi ciptaannya sepanjang zaman, ia menjadi suatu reformis pada penyair tersebut. Kelihatannya ia sebuah penyimpangan total.

Yang demikian, saya perturunkan enam buah puisi Suhaimi Haji Muhamad untuk melihat kejituannya.

Waktu Keluar
aku kamar
   di dalamnya mundar-mandir darah mengilat
aku kelam
    mengalir tanpa henti sungai mawar yang remaja
kalau aku merenung keluar jendela
    yang kulihat suara pohon yang gementar

demi panas aku pun keluar
    kuingin membacakan sekeping cermin yang tua

kalian yang menunggu
    masih ada selaput bunga di padang itu

    apabila kau menolak semua

1980


Singa Tua

dunia kayu ini melepaskan mereka
   sejak malam tadi
sang pertapa duduk dengan tetap
   ke mana hilangnya anak panah
air terjun 'kan menggema lagi
   bila detik telah berlalu

pemburu berdiam sejenak - menunggu -
    dunia kayu melepaskan mereka

hanya batu-batu
    terkepung

1986

Surat

    soalnya aku tak izinkan tetes sinarku menjadi
ikan baru naik ke pantai
    soalnya aku tak ingin besi sinarku menjadi darah
ikan baru naik ke pantai
    aku tak ingin batu mawarku menjadi rusa hijau
kambing hijau di sana

    sungguh telah lama lalat-lalat mengurungi
gunung-pantai di negeri mawarku
    sungguh tak harus kutinggalkan aku sewaktu
makan kalau

    surat ini kubuat tanggal

1986


Waktu Kau

mabuk adalah masyarakat maha kuat
    duniamu sudah jauh

sekali itu kau mengangkat pistol
    menembak kepalamu lagi

isterimu di rumah mendapat khabar
     kelongsong-kelongsong yang dia pegang

perlahan-lahan dia meniduri anggur-anggurnya
     di luar taman rumah

kerana kini yang terbujur bukan tubuhmu
     tapi jatuhmu

1986


Kerajaan Jam

elang
    bulu-bulu berguguran
    berputar
tumbuh akar
    ke awan
di mana kautinggal
    hutan belentara
    ranap
rontok sosok-sosok nyawa
    makin tegang-kuntang
di negeri lapisan
    rontok mengilat
debu semakin selaput
    kelicap seekor
bertengger mengepak
   di tunggul

   debu mengilat

1986


Kulit Bunga

bicara-bicara yang ditanggalkan
   bicara yang mana
telah kaukeluarkan
   pada kulit bunga ini
yang kaukeluarkan yang mana
   entah di mana
aku bersama sate kijang
   yang menumpukan
kalau boleh biar saja kita
   kita mengucapkan yang
   paling diam

soalnya berapa lama kita harus demam?
inilah yang tinggal

1986

Enam buah puisi yang saya siarkan di atas akan memandukan akan tulisan ini. Bagi saya bukan soal komunikatif yang dibicarakan, apa yang lebih penting adalah muasal dan pemikiran besar yang dilontarkan. Memang bagi penulis revolusineer, ia membabat semua lokaliti lama ( unfamiliar ) untuk membena yang baru. Dan kesan audien akan tampak kaget lantas melancarkan serangan tentang butuh-butuh yang perlu dalam puisi. Gegerannya kadangkala bisa mematikan semangat sang revolusineer tadi. Dan gejala yang sama timpas pada Suhaimi Haji Muhamad.

Pengkaji mendapati Suhaimi telah melarikan diri dari kebiasaannya ini sejak kumpulan puisi Rontgen ( 1963 ) yang memperlihatkan penyimpangan atau pemesongannya yang ketara. Pemesongan ini menurut Victor Shklovsky adalah satu teknik defamiliarization yang menghampiri bentuk-bentuk kabur ( Robert Scholes, 1977 ) Oleh yang demikian, Suhaimi pantas terus dikatakan penyair yang penyimpang. Lihat saja sajaknya Waktu Keluar, Suhaimi menulis;

aku kamar
    di dalamnya mundar-mandir darah mengilat

Amat tidak biasa, bagi pembaca yang dihadapkan dengan tokoh, ' aku kamar '. Kamar adalah tempat tidur untuk istirahat dan menenangkan fikiran. Namun apabila, aku kamar/ di dalamnya mundar-mandir darah mengilat, ini sudah mengkontradiksi peranan ' kamar '. Kerana selepasnya ditulis, aku kelam/ mengalir tanpa henti sungai mawar yang remaja. Lihat, bagaimana kontradiksi dua eleman kamar dan kelam. Kamar dihias dengan mundar-mandir darah mengilat, sebaliknya, kelam merupakan sungai mawar yang remaja. Kalau aku merenung keluar jendela/ yang kulihat suara pohon yang gementar. Lihat, bagaimana, kamar, kelam bersatu dalam melihat natijah di luar jendela yang mempunyai impak pohon gementar.

Suhaimi seakan bermain dengan pilihan kata. Pertama, kamar, kedua, kelam. Dua objek ini diberi sorotan yang sama iaitu memandang keluar jendela. Natijahnya, pohon gementar. Di sini telah tersisih kelam yang membawa aroma sungai mawar yang remaja. Apabila dalam rangkap seterusnya, demi panas aku pun keluar/ kuingin membacakan sekeping cermin yang tua. Siapa ' aku ' di sini? Kamar atau kelam. Dua watak ini bertentangan. Seterusnya, kalian yang menunggu/ masih ada selaput bunga di padang itu. Apabila kau menolak semuanya. Yang kedapatan di sini ialah sekeping cermin tua. Tua tidak sesuai dengan sungai mawar yang remaja. Di sini tokohnya adalah kamar. Selaput bunga di padang. Ini tidak jelas. Yang akhirnya menolak semua keputusan. Memang tidak cocok mengulas stanza demi stanza namun akhirnya kita rumus. Rumusan menyeluruh, ada kontradiksi batin. Penyair menyimpulkan kamar dan kelam. Kalau dilihat daripada pemilihan kamar ia menunjukkan kejantanan dan kelam menunjukkan ketidakmampuan. Cerita ini adalah objek kemandulan hasrat dan permintaan.


Sejak tahun 50an lagi, puisi telah mendapat sorot yang sangat hebat. Misalnya ada pertanyaan, apa tujuan menulis sajak? Asmara menjelaskan sebuah sajak yang baik dan bernilai tinggi adalah sajak yang membawa isi yang padat dan pemakaian bahasa yang mudah. ( Zain Asmara, 1953 ) Namun kemudiannya saranan ini seakan tidak dipatuhi oleh kumpulan yang menamakan penyair kabur iaitu Noor S.I., A.S. Amin dan M. Ghazali. ( Sejarah Kesusasteraan Melayu Moden, Hashim Awang, 2003 )

Dalam puisi seterusnya, Surat, ternyata ia lebih difahami. Surat menyatakan,

soalnya aku tak izinkan tetes sinarku menjadi
ikan baru naik ke pantai

( maknanya perjuangan penyimpangan penyair ini tidak akan kelemasan - dibayangkan dengan ikan naik ke pantai )

Aku tak ingin batu mawarku menjadi rusa hijau
kambing hijau di sana

( Penyair tidak mahu penyimpangan itu akan menjadi hiasan juga tidak mahu menjadi pelarian semata )

...
surat ini kubuat tanggal

( Resolusi bahawa penyimpangan ini  menjadi azimat buat penyair )

Dari enam buah sajak yang saya paparkan ini, menjadi bukti kukuh penyimpangan kepenyairan Suhaimi Haji Muhamad dalam dunia kepenyairan tanah air ( Malaysia ) Karya-karyanya, sama ada rumit ataupun mudah ( Suhaimi mengistilahkan puisi mudah ini, puisi sampah ) pada perkiraan saya bersesuaian dengan interpritasi penghayatnya. Bagi saya, tiada puisi mudah atau puisi payah. Sekiranya ia rumit untuk ditafsirkan, bagi penghayatan serius, ia akan membaca berulang-ulang, mencari kata dasar dan ruang waktu. Hingga tempat, tarikh dan segala data sampingan diperlihatkan untuk menyokong ulasan. Bagi saya, penyair berdiri di kutubnya yang sendiri. Bisa membagi-bagikan kerumitan dan kelainan sebagai seorang pentafsir, pemikir sekaligus seorang pendombrak. Lihat saja Sutardji Calzoum Bachri, lontaran kata-kata bagai beliung dan halilintar. Di Malaysia, Abdul Ghafar Ibrahim, ber Tak Tun dengan bunyi hingga dikenal sebagai penyair 3V ( visual, verbal dan vokal )
Puisi bertindak sewajarnya. Kitalah pencari maknanya yang setia.


rujukan

1. Dewan Sastera ( September, 1986 )
2. Pengalaman Puisi ( Muhamad Haji Salleh. 1984 )
3. Mencipta Masyarakat Baru, ( Virginia Matheson Hooker, DBP, 2000 )

BILA MALAM BERTAMBAH MALAM

bila malam bertambah malam
tiada bulan indah menyiramkan sinarnya
hanya kesepian yang menendang radang dada

bila malam bertambah malam
sunyi sepi alam buana tiada lagi indah
hanya sekujur rangka yang terbiar

bila malam bertambah malam
mata hanya sebiji bola yang melayang ke gawang
kemudian hilang ditelan sorakan

17 jamadilawal 1432/ 22 april 2011

TANAH PEREMPUAN : PENGHARGAAN PEREMPUAN KEPADA PEREMPUAN

Helvy Tiana Rosa
Persoalan gender memang selalu heboh dalam saat dan ruang. Gender yang dimaksudkan pergulatan tentang penokohan dan kepala dalam setiap organisasi. Seperti Tun Fatimah, Laksamana Keumalahayati dan sudah tentu Cut Nyak Dhien, watak ini sentiasa meraih perhatian para tokoh seniman dan penulis. Termasuk penulis muda Helvy Tiana Rosa yang menokohkan Cut Nyak Dhien dalam Tanah Perempuan.

Tanah Perempuan ( Lapena, 2006 ) adalah naskah drama lingkung 10 terbaik daripada 300 naskah yang mengikuti Lomba Lokakarya Perempuan Naskah Drama yang dianjurkan oleh Dewan Kesenian Jakarta ( 2006 ) bagi menyambut 7 Women Playwrights International ( Jakarta, 2006 ) Helvy dilahirkan di Medan, pada 2 April 1970. Mempunyai pendidikan tinggi peringkat S1 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia ( 1995 ) S2 di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Jurusan Ilmu Susastra ( 2004 ) dan S3 di Fakultas Bahasa Universitas Negeri Jakarta. Mempunyai  daftar kegiatan sosial yang panjang dan anugerah yang berjela antaranya 10 Perempuan Penulis Paling Terkenal di Indonesia ( 2009 ) Wanita Indonesia Inspiratif versi Tabloid Wanita Indonesia ( 2008 ) Dosen Berprerstasi Universitas Negeri Jakarta ( 2008 ) Tokoh Sastra Eramuslim Award ( 2006 ) serta Lokomotif Penulis Muda Indonesia versi Koran Tempo ( ( 2003 )

Tanah Perempuan dihasilkan bagi menghargai pahlawan perempuan Aceh. Perempuan Aceh  bagi penulis adalah nadi sejarah. Dalam naskah ini, Safiah Cut Keumala ( Mala ) adalah seorang istri, ibu dan guru sejarah, berusia 35 tahun. Nama lengkapnya diambil dari nama Safiatuddin Syah, Cut Nyak Dhien dan Laksamana Keumalahayati yang merupakan tokoh pejuang asal Aceh.

Mala tinggal bersama suaminya Majid dan anak mereka Agam di rumah keluarga besarnya yang sederhana. Bersama seorang ayah yang dipanggl Abu ( Harun ) Mak ( Hafizah ) abangnya Ma'e serta Imran, adiknya. Ketakutan dan kepedihan telah dirasakan keluarga tersebut sejak  Mala remaja akibat pelaksanaan DOM ( Daerah Operasi Militery ) Namun kepedihan yang teramat sangat berawal ketika suatu hari, Ma'e , abangnya hilang.

Ternyata hilangnya Ma'e barulah awal dari kepedihan beruntun yang menimpa Mala dan keluarganya. Tak lama kemudian, Abu tewas ditembak orang tak dikenal di depan rumah mereka. Saat itu Mak sangat tergoncang, begitu pula Mala dan anggota keluarga yang lain.

Imran menyarankan agar mereka semua berhijrah ke Penang. Meski tak punya saudara, dengan bekal sedikit harta yang dimiliki, Imran yakin kehidupan keluarga mereka akan lebih baik. Namun Mala dan Majid tak setuju. Mereka merasa tempat mereka adalah Aceh. Dan apa pun yang terjadi, mereka coba akan bertahan. Imran tidak setuju dan dari saat itu hubungan mereka mulai renggang. Imran sendiri memiliki seorang kekasih bernama Surayya. Namun Surayya menghilang. Menurut tetangganya, Surayya bergabung dengan angkatan bersenjata dalam hutan. Imran patah hati.

Di suatu alam lain, Mala telah berhalusinasi bertemu Laksamana Keumalahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Pocut Baren dan Poocut Meurah Intan. Dari sini bertukar-tukarlah kobar perjuangan di mana harus semangat masa lalu mengalir pada perempuan hari ini. Dengan mengumpulkan semangat mereka, Mala dan Surayya bangun menyusun semula kerosakan nonggroe yang lumpuh akibat tsunami. Tsunami yang paling berarti dalam kehidupan rakyat Aceh yang tidak putus-putus dilanda bencana dalam petualangannya menjadi manusia berwibawa.

Perempuan-perempuan Aceh sebenarnya menghargai dan mengakrapi segala kebobrokan Aceh. Sebelumnya, De Kemalawati telah muncul dengan Seulosoh ( Lapena, 2005 ) dan Siti Zainon Ismail ( Malaysia - tapi rindu Aceh ) menghasilkan Delima Ranting Senja ( Utusan, Kuala Lumpur, 2008 ) yang asli Aceh. Dalam Tanah Perempuan, Helvy menurunkan puisi ini.

hai inong Aceh dipat droe neuh
peu droe neuh ngop lam ie mata?
ingat geutanyoe nyoe inong Aceh
inong nyong beuhe ngon geumaseh

hantom menyerah

geutanyoelah inong nyong geumaseh
ibu pertiwi sepanjang masa
awak nyan
keumalahayati, safiatuddin, cut nyak, gata

nyoe mandum inong nyong beuhe
nyong hana habeh dipeulahe dibumoenyoe
hai inong Aceh dapat droe neuh?

( hai perempuan aceh, di mana kamu?
  apakah kamu berkubang dalam pedih
    dan airmata?
   ingat kita adalah perempuan aceh
   perempuan sejati yang penuh kasih
   dan pantang menyerah!

   kitalah para perempuan pemahat cinta
   ibu tanah ini sepanjang masa!
   maka sebut lagi nama mereka :
   keumalahayai, safiatuddin, cut nyak
   dhien, kamu!
   dan semua perempuan sejati
   yang tak habis dilahirkan tanah ini

   hai perempuan aceh, di mana kamu? )

Begitulah hendaknya karya-karya perempuan bermatlamat ganda. Bukan sahaja berkarya untuk kepentingan sastra tetapi selebihnya kepada ibu pertiwi dan dan bangsanya. Sejarah telah memberi sumber inspirasi untuk penulis berkarya dan janganlah hendaknya meraba-raba mencari sesuatu yang entah dari mana puncanya. Ya, perempuan adalah tonggak ibu pertiwi sepertimana Helvy, Siti Zainon dan De Kemalawati.

EMPAT PUISI TAUFIQ ISMAIL ; PENYAIR LANGIT


Taufiq Ismail
Taufiq Ismail sebelum muncul dengan lebih tenger pada tahun 1966 hingga H.B. Jassin meletakkan beliau sebagai pelopor Angkatan 66, beliau telah lama menulis. Beliau lahir dari keluarga  guru dan wartawan dan bercita-cita menjadi sasterawan sejak di bangku SMA lagi. Cita-citanya menjadi doktor hewan yang mempunyai perusahaan ternak sebagai sumber sara hidup sebagai seniman tulen. Rupanya sebagai usahawan ternak beliau gagal, namun doktor hewan bisa diraihnya. Tamat FKHP-UI Bogor pada 1963.

Beliau terlibat aktif sebagai Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI pada 1960-1961, WaKa Dewan Mahasiswa UI pada 1961-1962. Di Bogor menjadi guru di SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis. Beliau menandatangani Manifesto Kebudayaan yang mengakibatkan beliau dipecat dari dosen di Institut Pertanian Bogor ( 1964 )  Akibatnya juga beliau gagal melanjutkan pelajaran di Florida, Amerika Serikat dalam jurusan Pengurusan Penternakan. Di tanahair, beliau salah seorang pendiri majalah sastra Horison ( 1966 ) Pelopor Angkatan 66 yang memunculkan penyair yang punya gengsi. Kumpulan puisi yang diterbitkan ialah Malu Aku Menjadi Orang Indonesia ( ? ) Manifestasi  ( bersama Goenawan Mohammad, M. Saribi dll, 1963  ) Tirani  ( 1966 ) Sajak-Sajak Ladang Jagung ( ? ) Puisi-Puisi Sepi  ( 1970 ) Buku Tamu Museum Perjuangan ( 1969 ) Puisi-Puisi Langit ( 1990 ) Tirani dan Benteng ( 1993 ) Ketika Kata, Ketika Warna ( ? ) Seulawah - antologi Sastra Aceh ( ? ) Manakala karya terjemahannya pula ialah Bonjour Tristesee ( Francoise Sagan, 1960 ) Cerita Tentang Atom ( Ira & Manfreeman, 1962 ) Membangun Kembali Fikiran Agama dalam Islam ( Goenawan Mohammad & Ali Audah, 1966 )

Taufiq terkenal sebagai penyair sufi ( langit? ) dan keterlibatan beliau dalam kumpulan Bimbo adalah untuk menyebarluaskan pengaudionan puisi. Bimbo yang dipimpin oleh Samsudin Hardjakasumah, Acil Darmawan, Djaka dan Iin Parlina mendapat suntikan baru oleh puisi-puisi Taufiq. Puisi Taufiq juga dinyanyikan oleh Ahmad Akbar dan Ucok Harahap. Sepanjang penglibatannya, beliau dianugerahkan Anugerah Seni ( 1970 ) atas kumpulan puisinya Benteng ( 1966 ) oleh pemerintah Indonesia, Cultural Visit Award ( Australia, 1977 ) S.E.A. Write Award  ( 1994 ) Penyair Tamu University Iowa ( 1971-1972/ 1991-92 ) Pengarang Tamu DBP Kuala Lumpur ( 1990 ) Sebagai seorang seniman sufi beliau sangat reponsif terhadap masalah sosial dan alam lingkungannya, humuristik yang menjadikan karyanya kekal dimanfaatkan. Melalui Bimbo lebih 100 album dihasilkan dan rata-rata puisinya sampai ke khalayak ramai. Dengan jalur itu beliau berdakwah sambil memperkenalkan keindahan dan ketulusan puisi. Cara begitulah seniman-seniman Islamik berkarya seperti Kahlil Gibran, Iqbal, Saleh Abdussabur, Danarto dan Kemala. Ia dapat membedakan arti realitas, sejarah, kenyataan sosial dan egaliterisme yang dipunyai oleh orang beragama berbanding ethies. Dan Taufiq mempunyai ciri-ciri ini.

Untuk melihat kelainan Taufiq Ismail, empat buah puisi ini sebagai bukti.


buku tamu musim perjuangan

pada tahun keenam
setelah di kota kami didirikan
sebuah museum perjuangan
datanglah seorang lelaki setengah baya
berkunjung dari luar kota
pada sore bulan november berhujan
dan menulis kesannya di buku tamu
buku tahun keenam, halaman seratus
     delapan

bertahun-tahun aku rindu
untuk berkunjung ke mari
dari tempatku jauh sekali
bukan sekadar mengenang kembali
hari tembak-menembak dan malam
   penyergapan
di daerah ini
bukan sekadar menatap lukisan-lukisan
dan potret para pahlawan
mengusap-usap karaben tua
babymortir buatan sendiri
atau menghitung-hitung satyalencana
dan selalu mempercakapkannya

alangkah sukarnya bagiku
dari tempatku kini, yang begitu jauh
untuk datang seperti saat ini
dengan jasad berbasah-basah
dalam gerimis bulan november

datang sore ini, menghayati museum yang
   lengang
sendiri
menghidupkan diriku kembali
dalam fikiran-fikiran waktu gerilya
di waktu kebebasan adalah impian
   keabadian
dan belum terfikir oleh kita masalah
   kebendaan
penggelapan dan salahguna pengatas-
   namaan

begitulah aku berjalan, pelan-pelan
dalam museum ini yang lengang
dari lemari kaca tempat naskhah-naskhah
    berharga
ke sangkutan ikat kepala, sangkur-sangkur
    berbendera
maket pertempuaran dan pengergapan di
    jalan
kuraba mitraliur Jepang dari baja hitam
jajasan bisu pistol buildog, pistol Colt
PENGOEMOEMAN REPUBLIK yang mulai
    berdebu
gambar laskar yang kurus-kurus
dan kuberi tabik khidmat dan diam
pada gambar Pak Dirman

mendekati tangga turun, aku menoleh
       kembali
ke ruang yang sepi dan dalam
jendela museum dipukul angin dan hujan
kain pintu dan tingkap bergetaran
di pucuk-pucuk cemara halaman
tahun demi tahun mengalir pelan-pelan

di depan tugu dalam museum ini
menjelang pintu keluar di tingkat bawah
aku  berdiri dan menatap nama-nama
dipahat di sana dalam keping-keping
   aluminia
mereka yang telah tewas
dalam perang kemerdekaan
dan setinggi pundak jendela
kubaca namaku di sana..

gugur dalam pencegatan
tahun empat puluh delapan

demikianlah secara kakek penjaga
tentang pengunjung lelaki setengah baya
berkemeja dril lusuh, dari luar kota
matanya memandang jauh, tubuh amat
    kurusnya
datang ke museum perjuangan
pada suatu sore yang sepi
ketika hujan runai tetes-tetes di jendela
dan angin mengibarkan tirai serta pucuk-
  pucuk cemara
lelaki itu menulis kesannya di buku tamu
buku tahun keenam, halaman seratus
    delapan

dan sebelum dia pergi
menyelami dulu kakek aki
dengan tangannya yang dingin anih
seetelah ke tugu nama-nama dan menoleh
lalu keluarlah dia, agak terseret berjalan
dan menjelang pagi halaman
lelaki itu tiba-tiba menghilang

1985


aisyah adinda kita

aisyah adinda kita yang sopan dan jelita
angka smp dan sma sembilan rata-rata
pandai mengarang dan berorganisasi
mulai muharam satu empat nol satu
memakai jilbab menutup rambutnya
busana muslimah amat pantasnya

aisyah adinda kita yang sopan dan jelita
indeks prestasi tertinggi tiga tahun lamanya
calon insinyor dan bintang di kampus
bulam muharram satu empat nol empat
tetap berjilbab menutup rambutnya
busana muslimah amat pantasnya

aisyah adinda kita
tidak banyak berkata
dia memberi contoh saja

ada sepuluh aisyah berbusana muslimah
ada seratus aisyah berbusana muslimah
ada sejuta aisyah berbusana muslimah
ada sejuta aisyah
aisyah adinda kita

1984


beri daku kesumba

di uzbekistan ada padang terbuka dan berdebu
aneh, aku jadi ingat pada umbu

rinduku pada kesumba adalah rindu padang-padang
   terbuka
di mana matahari membusur api di atas sana
rinduku pada sumba adalah rindu penternak
   perjaka
bila mana peluh dan tenaga tanpa di hitung harga

tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
klemeng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
berdirilah di pesisir, matahari 'kan terbit dari laut
dan angin zat asam panas dikipas dari sana

beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau
    dan sepi malam hari
beri daku sepucuk gitar, bossa-nova dan tiga ekor
    kuda
beri daku cuaca tropika tering tanpa hujan ratusan
    hari
beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata,
    namanya sumba

rinduku pada sumba adalah rindu seribu ekor kuda
yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang
    jauh
sementara langit bagai kain membenam tangan , gelap
    coklat tua
dan bola api, merah padan, membenam di ufuk
    teduh
rinduku pada sumba adalah rindu padang-padang
     terbuka
di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan
     ternak melenguh
rinduku pada sumba adalah rindu seribu ekor kuda
yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang
     jauh

1970


sejadah panjang

ada sajadah panjang terbentang
dari kaki buaian
sampai ke tepi kuburan hamba
kuburan hamba bila mati

ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan sujud
di atas sajadah yang panjang ini

diselingi sekadar interupsi
mencari rezeki, mencari ilmu
mengukur jalanan seharian
begitu terdengar suara azan
kembali tersungkur hamba

ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan rukuk
hamba sujud dan tak lepas kening hamba
mengingat dikau
sepenuhnya

1984


rujukan

1. Dewan Sastera ( Desember 1986/ 1991 )
2. Pilihan Puisi-Puisi Baru Malaysia-Indonesia ( DBP, 1980 )
3. Ensaiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu ( DBP, 1999 )

ralat

* pembetulan jodol : 1. Buku Tamu Museum Perjuangan
                                  2. Beri Daku Sumba
                                  3. Sajadah Panjang
terima kasih pada Dr. Sudaryono atas koreksi dan perhatiannya.